Rabu, 25 Maret 2020

PENGERTIAN KEBUADAYAAN DAN KEBUDAYAAN JAWA TIMUR

KEBUDAYAAN JAWA TIMUR 

      Sebelum kita membahas tentang kebudaan Jawa Timur,alangkah baiknya kita mengenalnya lebih dahulu,karena kata pribahasa "tak kenal maka tak sayang".Jadi,saya akan mengenalkan beberapa jumlah penduduk di Jawa Timur dan wilayahnya.

Jawa Timur (disingkat Jatim, bahasa Jawa: Hanacaraka: , Pegon: جاوا ويتان, translit. Jåwå Wétan, bahasa Madura: Jhâbâh Dhimor) adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibu kotanya terletak di Surabaya. Luas wilayahnya 47.922 km², dan jumlah penduduknya 39.698.631 jiwa (per 2019).Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara 6 provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Provinsi Jawa Tengah di barat. Wilayah Jawa Timur juga meliputi Pulau Madura, Pulau Bawean, Pulau Kangean serta sejumlah pulau-pulau kecil di Laut Jawa (Kepulauan Masalembu), dan Samudera Hindia (Pulau Sempu, dan Nusa Barung).

  Ada beberapa kebudayaan Jawa Timur yang perlu di ketahui,yaitu :

A. Suku Bangsa
      Mayoritas penduduk Jawa Timur adalah suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura, dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur bagian timur), terutama di daerah pesisir utara, dan selatan. Di sejumlah kawasan Tapal Kuda, suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal.
Suku Bawean mendiami Pulau Bawean di bagian utara Kabupaten Gresik. Suku Tengger, konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di Pegunungan Tengger, dan sekitarnya. Suku Osing tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.
Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa adalah minoritas yang cukup signifikan, dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab dan India; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dan juga banyak ekspatriat yang tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya, dan sejumlah kawasan industri lainnya.

Suku bangsa di Jawa Timur, berdasarkan data BPS tahun 2010 yaitu:
NomorSuku BangsaJumlahKonsentrasi
1Suku Jawa30.019.15679,75%
2Suku Madura6.520.40317,32%
3Suku Osing297.3730,79%
4Tionghoa244.3950,65%
5Suku Bawean60.7030,16%
6Suku Batak56.3390,15%
7Suku Sunda46.2330,12%
8Arab42.7470,11%
9Suku Tengger33.8860,09%
10Suku Bugis20.7350,05%
11Suku Bali20.3630,05%
12Asal Maluku17.7560,05%
13Asal Papua16.1000,04%
14Suku Banjar12.4050,03%
15Suku Melayu11.6660,03%
16Suku Dayak10.8690,03%
17Suku Betawi8.6830,02%
18Suku Minangkabau6.6040,02%
19Lain-lain193.1660,51%
Total37.639.582
100%

B. Bahasa
    Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar suku Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Dialek bahasa Jawa timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan bahasa Jawa baku. Ciri khas bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan sering kali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya bahasa Jawa baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik, dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek bahasa Jawa di Malang umumnya hampir sama dengan dialek Surabaya. Dibanding dengan bahasa Jawa dialek Mataraman (Ngawi sampai Kediri), bahasa dialek Malang termasuk bahasa kasar dengan intonasi yang relatif tinggi. Sebagai contoh, kata makan, jika dalam dialek Mataraman diucapkan dengan 'maem' atau 'dhahar', dalam dialek Malangan diucapkan 'mangan'. Salah satu ciri khas yang membedakan antara bahasa arek Surabaya dengan arek Malang adalah penggunaan bahasa terbalik yang lazim dipakai oleh arek-arek Malang. Bahasa terbalik Malangan sering juga disebut sebagai bahasa Walikan atau Osob Kiwalan. Berdasarkan penelitian Sugeng Pujileksono (2007), kosakata bahasa Walikan Malangan telah mencapai lebih dari 250 kata. Mulai dari kata benda, kata kerja, kata sifat. Kata-kata tersebut lebih banyak diserap dari bahasa Jawa, Indonesia, sebagian kecil diserap dari bahasa Arab, Tionghoa, dan Inggris. Beberapa kata yang diucapkan terbalik, misalnya mobil diucapkan libom, dan polisi diucapkan silup. Perkembangan bahasa Walikan Malangan semakin berkembang pesat seiring dengan munculnya supporter kesebelasan Arema (kini Arema Indonesia) yang sering disebut Aremania. Bahasa-bahasa Walikan banyak yang tercipta dari istilah-istilah di kalangan pendukung. Seperti Ongisnade atau Singo Edan, Otruham, Rajajowas, Ongisiras, dan Utab untuk menyebut wilayah Muharto, Sawojajar, Singosari, dan Batu. Terlepas dari tiga kelompok dialek bahasa Jawa tersebut (Malangan atau Kiwalan, Boso Suroboyoan, dan Mataraman) saat ini bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA.
Bahasa Madura dituturkan oleh suku Madura di Madura maupun di mana pun mereka tinggal. Bahasa Madura juga dikenal tingkatan bahasa seperti halnya bahasa Jawa, yaitu enja-iya (bahasa kasar), engghi-enten (bahasa tengahan), dan engghi-bhunten (bahasa halus). Dialek Sumenep dipandang sebagai dialek yang paling halus, sehingga dijadikan bahasa standar yang diajarkan di sekolah. Di daerah Tapal Kuda, sebagian besar penduduknya menguasai dua bahasa daerah: bahasa Jawa dan bahasa Madura. Kawasan kepulauan di sebelah timur Pulau Madura menggunakan bahasa Madura dengan dialek tersendiri, bahkan dalam beberapa hal tidak dimengerti oleh penutur bahasa Madura di Pulau Madura (kesalingpahaman/mutual intelligibility).
Suku Tengger menggunakan bahasa Tengger yang lebih dekat dengan bahasa Jawa Kuno. Suku Osing Banyuwangi menggunakan bahasa Osing.
C. Agama 
Presentase penganut agama di Jawa Timur menurut sensus tahun 2010 adalah : 
ISLAM 96.36%
KRISTEN 2.32%
HINDU 0.30%
BUDHA 0.16%
KONGHUCU 0.02%
Lain-lain 0.84%
Mayoritas penduduk Jawa Timur umumnya menganut agama Islam, dan sebagian kecil lainnya menganut agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Sebagian penduduk, utamanya suku Jawa juga masih memegang teguh budaya Kejawen. Suku Madura umumnya beragama Islam dan terkenal sangat taat dalam menjalankan agama Islam. Suku Osing mayoritas beragama Islam, sedangkan mayoritas suku Tengger menganut agama Hindu.
Orang Tionghoa umumnya menganut agama Buddha, Kristen, Katolik, Konghucu dan sebagian kecil menganut Islam, bahkan Masjid Cheng Ho di Surabaya dikelola oleh orang Tionghoa, dan memiliki arsitektur layaknya kelenteng.

D. Sejarah / Peninggalan 

Peta Provinsi Jawa Timur

Kantor gubernur Jawa Timur di Surabaya pada tahun 1951
Jawa Timur merupakan salah satu dari delapan provinsi paling awal di Indonesia. Provinsi lainnya adalahJawa Timur merupakan salah satu dari delapan provinsi paling awal di Indonesia. Provinsi lainnya adalah Sumatra, Borneo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. Gubernur pertama provinsi Jawa Timur adalah R.M.T.A. Surjo.

Kehidupan manusia sebagai masyarakat baru muncul sekitar abad 8, yaitu, dengan ditemukannya prasasti Dinoyo di daerah Malang. Prasasti yang bertahun 760 M ini menceritakan peristiwa politik dan kebudayaan di Kerajaan Dinoyo. Nama Malang sendiri diperkirakan berasal dari nama sebuah bangunan suci yang disebut Malangkuseswara. Nama ini setidaknya terdapat dalam satu prasasti, yaitu, prasasti Mantyasih yang bertahun 907 M.
1. Era Kerajaan Singasari 
Pada tahun 1222, Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari. Ia berkuasa di kerajaan itu sampai tahun 1292. Sebelum berkuasa, Ken Arok merebut kekuasaan di Tumapel, Kediri, dari Tungul Ametung. Keturunan Dinasti Ken Arok ini kemudian menjadi raja-raja Singasari dan Majapahit pada abad ke 13 sampai abad 15.
Pada tahun 1227, Anusapati membunuh Ken Arok. Ia kemudian menjadi raja Singasari. Kekuasaan Anusapati hanya berlangsung 20 tahun. Ia dibunuh Tohjaya. Tiga tahun kemudian, Tohjaya terbunuh dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jaya Wisnuwardhana, putra Anusapati. Tahun 1268, Wisnuwardhana meninggal, takhtanya sebagai raja Singasari digantikan oleh Kertanegara (1268-1292). Pada tahuan 1292, Kertanegara dikalahkan oleh pemberontak bernama Jayakatwang, maka berakhirlah kekuasaan Kertanegara sekaligus mengakhiri riwayat Kerajaan Singasari.
2. Era Kerajaan Majapahit
Pada tahun 1294, Kerajaan Majapahit berdiri. Pendirinya adalah Raden Wijaya. Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Dia didampingi oleh mahapatih Gajah Mada. Bersama patihnya ini Hayam Wuruk berhasil menyatukan wilayah yang luas di bawah nama Dwipantara.
Pada tahun 1357, Terjadi peristiwa Bubat, yaitu perang antara Raja Sunda dan Patih Majapahit Gajah Mada. Peristiwa ini bermula dari keinginan raja Hayam Wuruk untuk mengambil putri Sunda yang bernama Dyah Pitaloka sebagai permaisurinya. Namun karena terjadi salah paham mengenai prosedur perkawinan, rencana tersebut berujung pada suatu pertempuran di Bubat. Pasukan Majapahit, di bawah pimpinan Patih Gajah Mada berhasil menaklukan Pajajaran dalam perang Bubat tersebut. Pada tahun 1389, Hayam Wuruk meninggal dunia. Posisinya digantikan oleh Wikramawardhana. Era ini merupakan awal dari runtuhnya Majapahit. Salah satunya diakibatkan adanya kekecewaan anak Hayam Wuruk yang lain, yaitu Wirabumi.
Setelah periode itu, mulai bermunculan kerajaan Islam. Perkembangan lain, bangsa Eropa mulai datang ke Nusantara dan berusaha untuk membangun kekuatan. Pada akhirnya mereka menerapkan kolonialisme. Pada permulaan abad 20, sistem pemerintahan kerajaan dihapuskan, diganti dengan sistem keresidenan.
Pada era penjajahan Jepang, perlawanan rakyat tetap terjadi. Di Blitar terjadi pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) pada awal tahun 1945. Pemberontakan ini dipimpin oleh Supriyadi, Moeradi, Halir Mangkudijoyo, dan Soemarto. Meskipun pada akhirnya pemberontakan ini dapat dipadamkan. Namun jiwa pemberontakan tersebut mampu mengobarkan semangat kemerdekaan pada seluruh rakyat Jawa Timur.
Dua pekan setelah proklamasi kemerdekaan, Surabaya telah memiliki pemerintahan sendiri dan berbentuk residen. Residennya yang pertama adalah R. Soedirman. Terbentuknya pemerintahan di Surabaya ini menimbulkan sengketa dengan Jepang, bahkan terjadi berbagai pertempuran. Penyebabnya adalah Jepang yang saat itu telah menyerah kepada sekutu, diwajibkan untuk tetap berkuasa sampai saatnya kekuasaan tersebut diserahkan kepada sekutu.
Kedatangan pasukan sekutu dengan diboncengi Belanda (NICA) ke Surabaya, menambah panas suasana. Puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945 di mana terjadi perang besar antara arek-arek Suroboyo melawan Sekutu. Tanggal 10 November kemudian ditetapkan sebagai hari pahlawan.
Pertempuran tersebut memaksa gubernur Suryo, atas saran Tentara Keamanan Rakyat (TKR), memindahkan kedudukan pemerintahan daerah ke Mojokerto. Seminggu kemudian, pemerintahan pindah lagi ketempat yang lebih aman, yaitu, di Kediri. Namun kondisi keamanan Kediri kian hari kian buruk sampai akhirnya, pada bulan Februari 1947, pemerintahan provinsi Jawa Timur dipindah lagi ke Malang. Pada waktu pemerintahan berada di Malang ini, terjadi pergantian Gubernur, Suryo digantikan oleh R.P. Suroso yang kemudian digantikan lagi oleh Dr. Moerdjani. Pada tanggal 21 Juli 1947, meskipun masih terikat dengan perjanjian Linggarjati dan perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak tanggal 14 Oktober 1946, Belanda melakukan Aksi Militer I. Aksi militer Belanda ini menebabkan kondisi keamanan di Malang memburuk. Akhirnya Pemerintahan Provinsi Jawa Timur pindah lagi ke Blitar.

Protes rakyat menolak berdirinya Negara Jawa Timur, Agustus 1950
Aksi militer ini berakhir setelah dilakukan perjanjian Renville. Namun perjanjian ini berakibat negatif bagi Jawa Timur, yakni, berkurangnya wilayah kekuasaan pemerintah provinsi Jawa Timur. Belanda kemudian menjadikan daerah yang dikuasainya sebagai negara baru, misalnya negara Madura dan negara Jawa Timur.
Ditengah kesulitan yang dihadapi pemerintah RI ini, terjadi pemberontakan PKI di Madiun tanggal 18 September 1948. Namun akhirnya pemberontakan ini dapat ditumpas oleh Tentara Republik Indonesia. Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Aksi Militer II. Blitar, yang waktu itu masih dipergunakan sebagai tempat pemerintahan provinsi Jawa Timur diserang. Gubernur Dr. Moerdjani dan stafnya terpaksa menyingkir dan bergerilya di lereng Gunung Willis. Aksi militer II berakhir setelah tercapai persetujuan Roem-Royen tanggal 7 Mei 1949.
Belanda menarik pasukannya dari Jawa Timur setelah diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menghasilkan piagam pengakuan kedaulatan negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Jawa Timur berubah status dari provinsi menjadi negara bagian. Namun rakyat Jawa Timur ternyata tidak mendukung perubahan status tersebut. Rakyat menuntut dibubarkannya negara Jawa Timur. Akhirnya pada tanggal 25 Februari 1950, negara Jawa Timur dibubarkan dan menjadi bagian wilayah Republik Indonesia. Keputusan untuk bergabung kembali dengan RI ini diikuti oleh negara Madura.
E. KESENIAN DAN KEBUDAYAAN 

KESENIAN


Pementasan Ludruk
Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang sering kali dibumbui dengan humor, dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo, dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi. Selain itu terdapat pula kelompok kesenian Ludruk di lingkungan universitas, salah satu yang masih eksis adalah Loedroek ITB sebagai salah satu Unit Kebudayaan di Institut Teknologi Bandung yang lebih dikenal sebagai Loedroek Kontemporer dan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi.

Reog Ponorogo
Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, Reog kini juga menjadi ikon kesenian Jawa Timur. Pementasan Reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang biasanya kental dengan suasana supranatural. Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan, Angling Darma, dan Sarip Tambak-Oso.

Tari Gandrung Banyuwangi
Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan tarian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gandrung, gambyong, srimpi, bondan, dan kelana.
Terdapat pula kebudayaan semacam barongsai di Jawa Timur. Kesenian itu ada di dua kabupaten yaitu, Bondowoso dan Jember. Singo Ulung adalah kebudayaan khas Bondowoso. Sedangkan Jember memiliki Can-Macanan Kadduk. Kedua kesenian itu sudah jarang ditemui.
KEBUDAYAAN
    Kebudayaan dan adat istiadat suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, Nganjuk), dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit, dan ketoprak cukup populer di kawasan ini.
    Kawasan pesisir utara Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya, dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.
    Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Kabupaten Sidoarjo,  Mojokerto, Lamongan, Gresik, Jombang dan Kota Surabaya dan Mojokerto), dan eks-Karesidenan Malang (Kabupaten Malang, Pasuruan dan Kota Malang, Pasuruan, dan Batu), memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini merupakan kawasan arek (sebutan untuk keturunan Ken arok) terutama di daerah Malang yang membuat daerah ini sulit terpengaruhi oleh budaya Mataraman.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura dan agama Islam, mengingat besarnya populasi suku Madura dan kuatnya pengaruh Madura dan Islam di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan, dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Akan tetapi, masyarakat di pesisir utara: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria (ganjuran), berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, di mana umumnya pihak pria yang melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita.
Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.
F. BAJU ADAT KHAS JAWA TIMUR DAN CIRI-CIRINNYA 
1. Baju Mantenan / Nikah
5 Nama Pakaian Adat Jawa Timur Beserta Gambar dan Penjelasan
2. Baju Pesa'an / Sehari-hari
5 Nama Pakaian Adat Jawa Timur Beserta Gambar dan Penjelasan

3. Kebaya Rancongan 

5 Nama Pakaian Adat Jawa Timur Beserta Gambar dan Penjelasan
4. Baju Cak dan Ning / Baju kontes untuk Pria dan Perempuan
5 Nama Pakaian Adat Jawa Timur Beserta Gambar dan Penjelasan
Dan ciri-ciri dari baju adat jawa timur yaitu :

KARAKTERISTIK  MASYARAKAT 
Karakteristik masayarakat Jawa yaitu "lembut dan santun",berbeda dengan masyarakat Jawa Timur yang biasanya dianggap "orang jawa kok gak kalem ya".Jadi yang membuat masyarakat Jawa Timur itu  berbeda,bisa dibilang "kasar" yaitu :
1. Cara Bicaranya
    Penyampain bicaranya yang sedikit lantang, tegas, cepat dan juga ceplas-ceplos seperti preman, membuat orang Jawa Timur terkesan seperti orang kasar yang sopan santunnya kurang baik dibandingkan orang Jawa Tengah.
2. Watak / Sifat dan sikap
    Orang Jawa Timur itu bukan orang Jawa yang kasar, kok. Hanya saja, orang Jawa Timur itu memang memiliki karakter dan watak yang jauh berbeda dengan orang Jawa Tengah.
    Orang Jawa Tengah dikenal dengan sifatnya yang kalem, lembut, lemah gemulai, sungkanan / pemalu.Sedangkan orang Jawa Timur itu lebih cekatan, tegas, tidak pemalu, keterbukaan atau bisa dibilang "blak-blakan", dan tidak suka berbelit-belit. Oleh karena itu, orang Jawa Timur terkesan sebagai orang yang kasar. Padahal, orang Jawa Timur itu hatinya lembut.
PENGERTIAN KEBUDAYAAN 
Definisi mengenai kebudayaan juga dikemukakan oleh para ahli,yaitu :

1. KOENTJARANINGRAT 
       Menurut beliau, kebudayaan merupakan keseluruhan perilaku dari manuasia dan hasil yang diperoleh melalui proses belajar dan segalanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
2. KI HAJAR DEWANTARA
      Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara didefinisikan sebagai buah budi manusia, yang merupakan hasil dari dua pengaruh besar yaitu alam dan kodrat masyarakat. Ini juga merupakan sebuah bukti kejayaan kehidupan manusia untuk dapat mengatasi kesulitan di dalam hidupnya agar keselamatan dan kebahagyaan bisa tercapai. Nantinya, sifat tertib dan damai juga akan terlahir dari sini.
3. SOELAEMAN SOENARDI DAN SELO SOEMARDJAN
       Menurut dua pakar tersebut kebudayaan merupakan semua hasil karya, cipta, dan rasa dari masyarakat. Karya – karya tersebut menghasilakn teknologi serta kebudayaan berwujud benda dan jasmaniah yang diperlukan oleh umat manusia untuk dapat menguasai alam supaya hasilnya bisa digunakan untuk diabdikan bagi keperluan masyarakat.

4. DR. MOHAMMAD HATTA

    Menurut beliau, pengertian kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
5. PARSUDI SUPARLAN
      Definisi kebudayaan adalah semua pengetahuan manusia yang merupakan makhluk sosial yang dipakai untuk dapat memahami dan sebagai interpretasi dari lingkungan dan pengalamannya. Kebudayaan juga dipakai untuk andasan dalam bertingkah laku.
6. HAJI AGUS SALIM
    Beliau mengemukakan bahwa kebudayaan adalah persatuan dari istilah budi dan daya agar menjadi makna satu jiwa yang tidak dapat dipisah – pisahkan.
7. EFFAT AL – SYARQAWI
    Menurutnya, arti dari kebudayaan merupakan sebuah khazanah sejarah bangsa yang dicerminkan pada pengakuan dan nilai – nilai di dalamnya, yakni nilai – nilai yang dapat menggariskan sesuatu untuk kehidupan, tujuan ideal, dan makna secara rohaniah yang dalam, serta bebas dari ruang dan waktu.
8. HARJOSO

Harjoso menguraikan arti kebudayaan menjadi beberapa poin, seperti berikut ini:

  1. Kebudayaan dalam msyarakat memiliki perbedaan dari yang satu ke yang lainnya
  2. Kebudayaan diteruskan dan bisa diajarkan
  3. Kebudayaan dapat diuraikan menjadi komponen biologis, psikologis, dan sosiologis dari keberadaan manusia
  4. Kebudayaan memiliki struktur dan cara tertentu
  5. Kebudayaan bisa dibagi atas aspek – aspek sosial dan psikologis
  6. Kebudayaan memiliki sifat yang dinamis
  7. Nilai pada kebudayaan mempunyai sifat yang relatif, dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain bisa berbeda – beda.


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DITERIMA/TIDAKNYA SUATU UNSUR KEBUDAYAAN BARU
Beberapa faktor yang mempengaruhi diterima/tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya : 
  1. Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
  2. Jika pandangan hidup dan nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama.
  3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru. Misalnya sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan baru.
  4. Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
  5. Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN 
     Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak bisa di pisahkan karena di mana manusia itu hidup dan menetap pasti manusia akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya. Manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lain dan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan yang terus mereka kembangankan dan kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menjadi kebudayaan. Setiap manusia juga memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, itu disebabkan mereka memiliki pergaulan sendiri di wilayahnya sehingga manusia di manapun memiliki kebudayaan yang berbeda masing-masing. Perbedaan kebudayaan disebabkan karna perbedaan yang dimiliki seperti faktor Lingkungan, faktor alam, manusia itu sendiri dan berbagai faktor lainnya yang menimbulkan Keberagaman budaya tersebut Seiring dengan berkembangnya teknlogi informasi dan komunikasi yang masuk ke Indonesia diharapkan dapat dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kebudayaan masing – masing daerah, karena kebudayaan merupakan jembatan yang menghubungkan dengan manusia yang lain.

Adapun beberapa contoh-contoh hubungan manusia dan kebudayaan,yatu :

  • Contoh-Contoh Hubungan Antara Manusia dengan Kebudayaan         

 1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar.

2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life)
Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai(sense of value)

3. Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial
Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah. 
Contoh : Cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu.

4. Kebudayaan khusus atas dasar agama
Contoh : Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya.

5. Kebudayaan berdasarkan profesi
Contoh: Kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat tinggal.


TELEGRAM NEW

ABSTRAK             Telegram merupakan aplikasi pesan instan multiplatform berbasis cloud yang gratis dan bersifat nirbala. Aplikasi Telegra...