![]() |
CINTA TANAH AIR,BERAWAL DARI KASIH SAYANG UNTUK NEGERI😊😍 |
A. Pengertian Cinta Kasih
Menurut Purwodarminto, cinta kasih adalah perasaan sayang, perasaan cinta, dan perasaan suka pada seseorang. Secara sederhana cinta dapat dikatakan sebagai paduan rasa simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang di antara pria dan wanita, akan tetapi dapat pula di antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita. Dalam kehidupan keluarga, kasih sayang atau cinta kasih merupakan kunci kebahagiaan. Dalam kasih sayang, sadar atau tidak sadar dan masing-masing pihak dituntut rasa tanggung jawab, pcngorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang itu hilang, sebagai misal tanggung jawab, maka retaklahkeutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran juga dapat mengancam kebahagiaan rumah tangga yang telah terbina.
Banyak orang salah mengartikan cinta,Cinta bukanlah sebuah nafsu yang bisa kita lalai akan sikap kita,memang Cinta dengan lawan jenis akan bermuara pada perkawinan yang berlanjut dengan seksual,Oleh karena itu rasanya sulit diterima bahwa seseorang menyatakan cinta sejati.Jadi,mari kita telaah perbedaan cinta denngan nafsu,sebagai berikut :
- cinta bersifat manusiawi. Pada manusia cinta dapat tumbuh dan berkembang,sedangkan pada binatang hanya terbatas pada nalurinya untuk melindungi.
- cinta bensifat rohaniah, sedangkan nafsu sifatnya jasmaniah. Luapan cinta seseorang memberikan semangat dalam hidupnya dan bagi yang menerimanya dirasakan sebagai kebahagiaan. Sementara nafsu yang jasmamah cenderung untuk memuaskan dorongan seksual.
- cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.Pemberian cinta dilakukan secara halus karena rohaniab sifatnya, sedangkan dorongan nafsu mudah dilakukan sebagai paksaan.
Menurut Fromm (1983),cinta itu terutama memberi bukan menerima dan memberi merupakan ungkapan paling tinggi dan kemampuan.Hal yang paling penting dalani memberi adalah yang sifatnya manusiawi,bukan materi.Cinta selalu menyatakan unsur unsur dasar tertentu,yaitu pengasuhan, tanggung jawab,perhatian dan pengenalan.Dalam cinta yang sejati selalu ada kesungguhan untuk membangun hubungan cinta yang ideal dalam mewujudkan kehidupan yang terbaik.
Menurut Sarwono (dalam Supartono,1996) bahwa cinta ideal memiliki tiga unsur,yaitu keterikatan, keintiman,dan ikatan adalah adanya perasaan untuk bersama dia,secara totalitas untuk dia,tidak mau bersama orang lain kecuali dengan dia.
B. Berbagai Cinta Kasih
Berbagai Bentuk Cinta Dalam buku “Seni Mencintai”, Fromm (1983) mengartikan cinta sebagai sikap, suatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan, bukan menuju satu “objek” cinta.Ta mengemukakan tentang macam-macam cinta, yaitu :
1. Cinta Persaudaraan
Cinta persaudaraan (agape dalam bahasa Yunani) diwujudkan manusia dalam tingkah laku atau perbuatannya. Cinta per saudaraan tidak mengenal adanya batas-batas manusia yang berdasarkan suku bangsa, bangsa, ataupun agama. Dalam cinta kami semua manusia sama, yaitu sebagai makhluk ciptaan Allah. Cinta persaudaraan pada umumnya melekat dengan sikap tanpa pamrih. Secara filosofis dibuatkan dengan jargon “cintailah sesamamu seperti engkau mencintaidirimu sendiri”.
2. Cinta Keibuan
Kasih sayang yang bersumber pada cinta keibuan yang paling ash adalah yang terdapat pada seorang ibu terhadap anak kandungnya. Seorang ibu yang memperoleh benih anak dan suaminya tercinta akan memeliharanya secara hati- hati dan penuh kasih sayang. Setelah anak lahir melalui penderitaan yang hebat dan ibu, dirawat dan diasuhlah anak dengan penuh kasih sayang. Dalam proses pengasuhan itu terdapat serangkaian tugas yang harus dilakukan ibu, yaitu menyusui, merawat, menemani, memandikan, membelai, dan sebagainya. Bagi seorang ibu tidak ada harta yang paling berharga kecuali kehadiran anak, yang dianggap sebagai buah hati.
3. Cinta Erotis
Kasih sayang yang bersumber dan cinta erotis (sifat membirahikan), memang merupakan suatu yang sifatnya eksklusif sehingga sering memperdayakan cinta yang sebenarnya. Hal mi terjadi karena antara cinta dan nafsu dipersepsikan secara sama. Padahal jika dicermati secara seksama, keduanya memihiki pengertian yang berbeda bahkan bertolak belakang. Kasih sayang dalam cinta erotis merupakan kontak seksual yang ash dan yang ideal bersumber dan cinta. Kasih sayang erotis dapat menjadi perekat hubungan suami istri dalam membina hidup berkeluarga.
4. Cinta Diri Sendiri
Pada din individu, di samping harus mencintai sesama juga ada keharusan mencintai din sendiri (self love). Banyak orang menafsirkan bahwa cinta kepada din sendiri identik dengan & Jika hal mi yang terjadi maka cinta pada din sendiri int nilai negatif. Namun esensi mencintai din sendiri Incrigurus din sendiri sehingga kebutuhan jasmani dan rohaninya terpenuhi secara wajar. Setiap individu wajib
niencintai dininya sendiri.
5. Cinta pada Allah
Cinta pada Allah merupakan perwujudan pengabdian manusia ketika hidup di dunia. Orang yang cinta pada Allah umumnya disebut religius atau taat beragama.
C. Hakikat Cinta
Satu
Hakikat Cinta bisa diartikan apa saja tergantung individu yang bersangkutan itu berpendapat,jadi hakikat,maksud dan makna cinta itu akan memiliki arti yang sangat luas dan berbeda - beda tergantung individu itu mengartikannya kepada wadahnya,misal kepada Sang Pencipta,Orang tua, maupun orang lain.
Dua
Cinta bisa membuat orang seperti tidak memiliki akan dan logika,bahkan bisa saja seorang individu yang sudah terobsesi meninggalkan Tuhannya demi mempertahankan cinta nya kepada makhluk Tuhan.Saat cinta sedang berkobar-kobar kita bisa merasa lebih semangat lagi,dan jika kita bisa memanfaatkan sikap ini untuk mencitai hal yang tepat,misal kita sangat mencintai Allah dan Rasulullah,niscaya jika sikap ini kita bisa pertahankan sampai akhir hayat kita,kita adalah orang yang sangat beruntung.Mencintai Allah dan Rasullullah dengan melaksankan perintahnya dan meninggalkan segala larangannya,itu salah satu cara sikap untuk membuktikkan cinta kita kepada-Nya.
Ada beberapa logika dan penalaran tentang cinta,menurut 3(tiga) jalur penalaran,yaitu :
Pertama, cinta itu bagai cahaya matahari, menyilaukan, membuat orang enggan memandangnya berlama-lama. Cinta memang maya tapi bisa jadi perangkap. Sekali manusia terperangkap, ia akan terus gelisah mencarinya.
Kedua, kepalsuan itu bagai cahaya bintang-bintang yang indah, memikat banyak orang.Dari sini manusia bisa terjerumus dalam cinta semu dan palsu, yang manakala terbongkar, akan jadi faktor yang menghancurkan diri sendiri.
Ketiga, dalam konteks dua jalur penalaran tersebut, muncul keraguan, sebagai faktor yang melekat dalam cinta. Keraguan menjadi prasyarat menuju cinta. Dengan bijak menyikapi keraguan, maka ziarah mencari cinta tak akan tegang ialah "menerima" kepalsuan dan kebobrokan sebagai realitas hidup. Juga, menerima sosok gelap tersebut sebagai "jodoh" atau sisi lain cinta.
D. Dialektika Kasih Vertikal
1. Cinta Manusia terhadap Pencipta-Nya
Semua agama yang dikenal manusia, memandang dunia sebagai ujian, gelanggang tempat manusia ditempa menjadi makhluk yang lebih mulia. Dunia adalah sejenis kelas di mana manusia dididik untuk mengembangkan kapasitas-kapasitasnya.Dalam sejarah, setidaknya ada dua kutub besar pandangan tentang dunia sebagai gelanggang. Kutub pertama adalah mereka yang melihat dunia sebagai kelas taman kanak-kanak. Mereka ini memang menganggap bahwa manusia pada dasarnya adalah bocah culun yang mungkin saja semurni malaikat tetapi sangat mudah menjadi mangsa setan. Manusia bahkan dianggap sangat gampang menjadi setan itu sendiri.
Jadi,Manusia merupakan Makhluk yang diciptakan paling sempurna tetapi mudah sekali terperdaya oleh gangguan/bisikan setan dan bahkan Manusia yang sudah melampaui batas bisa menjadi setan itu sendiri.Setan disini maksudnya sifat tidak terpuji yang menjerumuskan pada hal yang buruk.
Mengapa manusia mudah di perdaya?Menurut saya,karena banyak manusia yang belum bisa mengendalikan pikiran dan nafsunya,dan manusia yang bersifat seperti itu berarti belum punya rasa cinta yang sepenuhnya untuk Pencipta-Nya.Manusia beranggapan dunia ini merupakan perhiasan yang bisa membuat manusia lupa akan kilap-kilap yang terpancar sehingga kesilauan tanpa memikirkan akhirat yang merupakan tempat terakhirnya.
Manusia yang mencintai Pencipta-Nya dengan sepenuh hati yaitu akan beranggapan bahwa dunia yang ditempati itu hanya fiktif belaka yang diciptakan untuk ujian nanti diakhirat.Manusia yang mencitai Pencipta-Nya akan hidup dengan seimbang mengerjakan urusan dunia untuk keselamatan nanti di akhirat.
E. Hakim yang Manusia
Setiap hari kita bisa saja menghakimi orang lain,baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal tanpa kita sadari dengan melalui kata-kata dan gambar.Manusia beranggapan bahwa pikiran dan pengetahuan sendirinya lah yang paling benar.Itulah yang merupakan pasal-pasal dan perundangan dirinya untuk menghakimi orang lain.Dan beranggapan bahwa manusia lain itu penuh kesalahan dan dirinya yang paling benar.
1. Kebenaran
Dalam setiap kondisi dimana ada suatu permasalahan,manusia akan selalu sibuk untuk mencari mana yang benar dan mana yang salah?.Itulah setiap manusia mempunyai "kebenaran"sendiri.Dan kebenaran itulah yang digunakan untuk menghakimi yang lain.Nilai salah dan benar pada dasarnya adalah pengetahuan, yaitu pendidikan. Jadi, bersifat subyektif, baik individual maupun kolektif. Setiap orang didik untuk belajar pasal-pasal kebenaran dan kesalahan dalam berbagai versinya. Dan seperti kita lihat, bisa saling bertentangan. Yang benar dinilai salah, yang salah dinilai benar, tergantung dari "ajaran" mana manusia itu berasal.Kebenaran berasal dari 2 kebenaran yaitu kebenaran obyektif (hati nurani) dan kebenaran subyektif :
a. Kebenaran Obyektif / Hati Nurani
Kebenaran Obyektif itu bersifat spiritual,atau yang dikenal dengan "hati nurani".Setiap manusia,tidak memandang bentuk manusia yang seperti apa itu pasti mempunyai hati nurani yang berada dalam hati yang paling dalam.Penghakiman, menentukan benar dan salah, adalah kesesuaian antara hati nurani danperistiwanya sendiri. ltulah keadilan. Hati nurani melihat, manusia tidak melihatnya.Bertindak adil, menghakimi secara adil, adalah penghakiman hati nurani yang melewati proses perenungan yang tidak sederhana.
b. Kebenaran Subyektif
Jika manusia ingin bertindak sebagai hakim yang membenarakan kebenaran secara subyektif dengan memandang hanya pada satu arah seperi melihat dengan menggunakan kacamata kuda yang tidak mau melihat arah lain,maka manusia tersebut adalah "hakim yang bodoh".Karena kebiasaan kita dengan cepat menghakimi orang lain tanpa terlebih dahulu memahami peristiwa yang terjadi dan mencari bukti-bukti yang mendukung agar adanya kebenaran obyektif agar tidak mnyesatkan orang lain.
F. Ibunya Cinta,Ayahnya Keikhlasan
Bom teroris memang menyengsarakan, tetapi ia tidak cukup kuat untuk menyeret manusia kembali ke sentimen primordial yang lebih menyengsarakan lagi.Semua ini, seperti sedang bercerita ke umat manusia, tidak saja dalam pengetahuan sekat-sekat mulai roboh, dalam spiritualitas pun tembok-tembok pemisah mulai runtuh. Mahatma Gandhi lahir, bertumbuh, dan meninggal di keluarga Hindu.
Namun, begitu menyangkut perjuangan tanpa kekerasan, ia menjadi acuan banyak sekali orang Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha. Gandhi telah menjadi Max Weber- nya gerakan antikekerasan. Nelson Mandela bertumbuh di keluarga Kristiani, tetapi keteladanannya dalam hal memaafkan masa lalu menjadi cahaya penerang banyak sekali manusia.
1. Hujan,Sungai dan Laut
Anak-anak di sekolah dasar hanya sedikit yang bisa bergelar doktor nantinya. Pejalan
kaki ke dalam diri juga sama. Amat sedikit yang bisa sampai di puncak gunung, seperti
Rumi, Mandela, dan Gandhi. Sebagaimana dicontohkan alam, kebanyakan orang
memulai perjalanan seperti hujan. Jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada
di bumi. Ini yang bisa menjelaskan mengapa sebagian lebih generasi muda mengisi
keseharian (belajar, bekerja) sambil bernyanyi lirik lagu maju tak gentar, membela yang
bayar.
Semangat, keras, dan penuh tenaga, itulah tanda-tanda manusia yang baru sampai di
sini. Sebagian politikus, akademisi, dan pengusaha yang penuh ambisi ada dalam kelompok ini. Namun, air hujan mana pun begitu menyatu dengan sungai mulai kehilangan sebagian sifat-sifat kerasnya. Aliran air sungai menghadiahkan kelembutan pada air hujan. Kendati di bagian-bagian tertentu air sungai masih keras dan ganas (seperti air terjun atau banjir bandang), di kebanyakan waktu dan tempat, air sungai itu lembut.
Persis seperti pemandangan sungai yang ditandai barang keras seperti batu serta barang lembut berupa air, demikian juga dengan manusia yang sudah bertumbuh sampai tahap ini. Ada kalanya ia tegas dan keras (seperti tentara yang sedang berperang), ada saatnya lembut bak seorang pelayan. Pemimpin agung umumnya meramu ketegasan dan kelembutan dalam campuran yang sempurna. Tatkala menghukum, ia setegas batu.Ketika melayani, ia selembut air.
Hanya persoalan waktu, air sungai akan sampai di laut. Dan di laut seluruh kekerasan dan kelembutan (baca: dualitas) lebur menjadi satu. Pencapaian berjumpa laut seperti inilah yang dialami oleh orang-orang seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin,Rumi, hingga Mahatma Gandhi. Tempat lahir, agama, dan negara mereka memang berbeda, tetapi ada yang sama di antara mereka: melakukan semuanya dengan cinta,menerima hasilnya dengan keikhlasan.
Dari kisah Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin,Rumi, hingga Mahatma Gandhi,bisa kita simpulkan bahwa manusia haruslah bekerja keras dengan ikhlas dan penuh kasih saat bekerja,biarkan hidup saeperti air hujan yang turun dari langit lalu mengalir ke sungai kemudian melebur menjadi satu di lauatan bebas,jadi setelah kita sudah berusaha secara maksimal biarlah hasil yang kita dapat itu baik itu memuaskan atau tidak,kita harus menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.
2. Orangtua Spritual
Dalam bahasa Vivekananda: when the blossoms vanish, the fruits appear. Tatkala bunganya layu, buahnya muncul. Bila penampilan luar (pujian, kekayaan) sudah mulai kehilangan daya tariknya, ada penampilan dari dalam (rasa syukur, rendah hati) yang muncul sebagai pengganti. Itu sebabnya laut merendah, mensyukuri apa saja yang datang. Hasilnya, laut agung tidak terkira. Ia yang berguru pada laut sedalam ini sudah menemukan orangtua spiritualnya.
Sebagai Ibu, laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang diolah penuh cinta.Sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih. Inilah silsilah spiritual manusia-manusia agung, Ibunya cinta,Ayahnya keikhlasan. Dalai Lama pernah berpesan, If you want others to be happy, practice compassion. If you want to be happy, practice compassion. Mempraktikkan welas asih,itulah rahasia kebahagiaan.
Dalam bahasa seorang guru Mahamudra, If one can rest the mind naturally, that’s the supreme meditation. Saat batin bisa beristirahat secara alami, itulah puncak meditasi.Keikhlasan berkontribusi besar dalam membuat batin beristirahat dalam kealamian. Ibarat burung elang yang terbang indah di angkasa, demikian juga kehidupan yang berjumpa orangtua spiritualnya: ikhlas, bebas, dan lepas.
Cinta membuat semuanya berguna, bermakna.
G. Lukisan Indah Kebijaksanaan
Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun, melalui tindakan pada masa kini, keduanya bisa dibuat kian terang atau gelap. Sebutlah Ibu yang sudah meninggal,tetapi belum sempat dibahagiakan. Masa lalu membuat kehidupan kian suram jika masa kini diisi penyesalan, rasa bersalah, tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya ini bisa menjadi awal terang jika pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan titik awal untuk banyak membahagiakan orang.
Di Tibet, makhluk hidup diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi mother being.Terutama karena diyakini jika semua makhluk pernah menjadi Ibu kita pada masa lalu.Dengan demikian, bila rajin membahagiakan orang atau makhluk lain, kita juga sudah membahagiakan ibu. Selain itu, membahagiakan orang adalah salah satu persiapanterbaik menyongsong masa depan. Inilah transformasi spiritual, rasa bersalah akan masa lalu dan takut akan masa depan, diolah sekaligus dinikmati hari ini.
1.Guru sebagai Cahaya
Inilah tanda-tanda manusia yang mulai terbimbing. Dalam setiap kejadian (menyenangkan maupun menjengkelkan) ada cahaya bimbingan. Di Timur, ia disebut munculnya guru simbolik. Tidak ada kebetulan, semua hanya bimbingan. Cuma,sebagian bisa dimengerti kini, sebagian dimengerti nanti.
Sayang, amat sedikit manusia yang lahir di zaman ini memiliki berkah spiritual berjumpa guru. Untuk itu, bagi orang-orang mengagumkan, seperti Jalalludin Rumi,perjumpaan dengan guru adalah berkah spiritual yang amat disyukuri. Segelintir sahabat yang berjumpa guru menyebutkan, hanya dengan mendengar namanya sebagian ketakutan akan neraka langsung sirna.Karena itu, tidak sedikit pencari yang menghabiskan waktu, tenaga, dan dana untuk mencari guru. Idealnya, pencarian dimulai dengan berjumpa guru hidup. Lalu perintah-perintah guru hidup ini diperkaya guru dalam bentuk buku suci. Ia yang sudah memadukan guru hidup dengan buku suci lalu berjumpa guru simbolik dalam keseharian. Puncaknya tercapai saat ketiga guru ini menjelma menjadi guru dalam diri.Orang jenis ini seperti membawa lentera ke mana-mana. Tidak ada lagi kegelapan yang tersisa.
Jadi,dari kisah ini bisa disimpulkan bahwa guru merupakan seorang sosok yang bisa membawa kita menjadi yang lebih baik.pada zaman tersebut murid yang mencari guru dan saat itu para murid sangatlah patuh pada gurunya,bagi mereka berjumpa dengan gurunya merupakan berkah spritual yang amat disyukuri.
2. Kematian
Maka, tidak sedikit guru meditasi yang menggunakan kematian sebagai sumber air perenungan yang tidak habis-habis. Pertama-tama meditator membayangkan tubuhnya mati. Badan kaku, membiru, orang-orang dekat menangis dan seterusnya. Diterangi cahaya keikhlasan, kematian terlihat sebagai kembalinya unsur badan ke rumah aslinya. Unsur tanah kembali ke tanah, unsur air kembali ke air, unsur api kembali ke api, unsur udara kembali ke udara, unsur ruang kembali ke ruang. Dalam bahasa tetua Bali, kematian disebut mulih ke desa wayah (pulang ke rumah sesungguhnya).Ia yang merenungkan kematian menjadi lebih tenang, santun, baik, dan rendah hati.Bukankah ketenangan dan kebajikan adalah teman paling berguna dalam kematian?Selain itu, kematian juga berubah wajah menjadi guru simbolik yang membimbing menapaki tangga kemuliaan. Mungkin ini sebabnya Santo Paulus mengemukakan "l die every day" yang artinya "aku mati setiap hari",jadi kita setiap saat harus melakukan sesuatu kebajikan dan beranggapan bahwa esok kita akan mati.
H. Merenungkan Pikiran Erotis
”Kemenangan yang sejati adalah mengalahkan diri sendiri” (Miguel de Cervantes dalam Don Quixote). Manusia-manusia mulia atau mereka yang tercerahkan mengajarkan bahwa solusi untuk berbagai derita hidup tidak berada di luar, tetapi di dalam diri kita.
Ketenangan pikiran dicapai dengan membawanya dari level terpencar (scattered mind) menuju level terkonsentrasi (concentrated mind). Pada level terpencar, pikiran sangat labil dan mudah terusik oleh rangsangan sehingga rentan menimbulkan kecemasan dan ketidakstabilan emosional. Orang yang sampai pada pikiran terkonsentrasi menerima rangsangan tanpa terganggu. Dalam Taoisme, ini digambarkan sebagai cermin atau permukaan telaga yang tenang.
1. Pikiran Simbolis
Inilah kekhasan manusia. Ia membentuk sekaligus mengerti simbol. Ketika simbol dimaknai, pengalaman individual dan kultural ikut berbicara. Karena individu itu unikdan kultur beragam, multitafsir tak terelakkan. Sigmund Freud, teoretikus besar tentang dorongan seksual manusia, mengakui dominasi hasrat seksual dalam perilaku manusia.Proses pemaknaan serupa perlu diterapkan bagi karya seni yang merupakan jalur menetaskan simbol-simbol ketidaksadaran. Salah satu sarat penting mencapai pribadi sehat adalah membuat sadar yang tidak disadari. Mungkin ini alasan Plato untuk mengatakan bahwa seni adalah sarana memurnikan diri.
2. Pria Korban Pornografi
Dalam teori interaksionisme simbolis, gambaran mental kita tentang pria dan wanita adalah produk dari wacana yang ramai diobrolkan masyarakat.Salah satu wacana besar tentang seksualitas menyatakan, laki-laki lebih sering memikirkan seks, melakukan masturbasi, atau menginginkan hubungan seksual.Wacana seperti ini sebenarnya menampilkan sisi rapuh pria yang menarik bagi
pornografer dan pornoaktor untuk dieksploitasi. Semakin kita menerima wacana itu,semakin subur pornografi. Jadi, bila dicermati, bukan wanita yang dieksplotasi, tetapi kerapuhan pada pria yang lebih dulu diwacanakan. Wanita dijadikan sarana menuju kerapuhan itu.Jelas bahwa baik pria maupun wanita dirugikan lewat pornografi dan pornoaksi.Pornografi menjauhkan kita dari makna lebih dalam hubungan pria-wanita. Ketika suami jauh dari istri, apakah ia sibuk memikirkan kaki, tangan, mata, pinggul, atau rambut istrinya? Saya kira tidak. Pikiran yang lebih dominan adalah kecemasan berada jauh dari cinta dan perhatian sang istri.
Esensi kewanitaan bagi kita (pria dan wanita) perlu kembali dihidupkan. Setiap kita punya ibu yang adalah wanita, saudara kandung yang adalah wanita, atau sahabat karib yang juga adalah wanita. Mereka ini menghadirkan makna paling dasar dari hubungan pria-wanita yang kualitasnya digerus pornografi.
3. Sentuhan Inheren
Salah satu teknik yang diajarkan dalam tradisi Timur untuk sampai pada pikiran ini adalah apa yang dalam pemikiran Barat disebut mindfulness atau yang dalam pemikiran Jawa disebut awas. Awas adalah upaya pribadi mengenali gejolak-gejolak batin (self-awareness).Menumbuhkan kesadaran sebaiknya tidak melulu berupa paksaan dari luar. Ketika seorang ibu melihat anaknya bermain pisau, ia bisa saja mengatakan, ”Jangan bermain pisau!”. Cara seperti ini sering kali manjur untuk memaksa anak berhenti. Sayangnya,si anak tidak menyadari alasannya. Ada cara lain. Ibu bisa mengambil sepotong daging mentah, menyayatnya dengan pisau, dan mengatakan, ”Ini lho bahayanya kalau kamu main pisau”. Cara ini mengajak anak berhenti sambil menyadari bahaya main pisau.Nah, jika pornografer dan pornoaksi dihentikan lewat larangan-larangan, apakah dorongan seksual menjadi jinak dan bisa dikontrol? Saya kira belum cukup. Kita masih punya fantasi dan imajinasi seksual yang kadang-kadang jauh lebih liar daripada sekadar gambar, tulisan, atau gerakan erotis atau membangkitkan hasrat seksual.
I. Rakyat Sebagai Kekasih Sejati
Di Indonesia saat musimm pemilu,dialog tentang calon presiden diwarnai oleh berjenis-jenis nuansa, latar belakang ilmu dan pengetahuan, kecenderungan budaya, fanatisme golongan,pandangan kebatinan, juga berbagai wawasan yang resmi maupun serabutan. Namun,semuanya memiliki kesamaan: perhatian yang mendalam kepada kepemimpinan nasional dan cinta kasih yang tak pernah luntur terhadap bangsa, tanah air, dan negara.Itu berlangsung ya di warung-warung, bengkel-bengkel motor, serambi masjid, gardu ronda, juga di semua lapisan: kantor-kantor profesional, ruangan-ruangan kaum cendekiawan, istana-istana kaum pengusaha, termasuk di sekitar meja- meja pemerintahan sendiri. Ketika saatnya tiba, mereka memilih: ada yang berdiam diri bergeming dari posisinya sekarang bersama pemerintahan presiden yang sedang berkuasa. Ada yang menoleh ke kemungkinan mendulang harapan ke pemimpin tradisional. Ada yang merapat ke pemimpin yang pernah memimpin dan kembali mencalonkan diri. Atau kepada kemungkinan lain: pergerakan terjadi ke berbagai arah,lama maupun baru. Dan, semuanya selalu sangat menggairahkan.
1. Memiliki Pola Kearifan
Masyarakat Indonesia sudah sangat melekat dengan pola kearifan,empati,simpati,toleransi serta sopan santun yang khas.Bagi masyarakat Ibu Pertiwi bagaikan ibunya dan NKRI bagaikan bapaknya dan pemerintah sebagai kekasihnya.Kekasih yang selalu disayang,dimaklumi,dimaafkan.Suatu saat rakyat bisa saja sangat marah kepeda pemerintah,tetapi cintanya tetap lebih besar daripada kemarahannya sehingga kemarahan tersebut akan berunjung dengan memaafkan,menyanyangi,memaklumi lagi.
Rakyat Indonesia sangat tangguh sehingga posisinya bukan menuntut, menyalahkan,dan menghukum pemerintahnya, melainkan menerima, memafhumi kekurangan, dan sangat mudah memaafkan kesalahan pemerintahnya. Bahkan, rakyat begitu sabar,tahan dan arifnya tatkala sering kali mereka yang dituntut, dipersalahkan, dan dihukum oleh pemerintahnya. Itulah kekasih sejati.
Kekasih sejati memiliki keluasan jiwa, kelonggaran mental, dan kecerdasan pikiran untuk selalu melihat sisi baik dari kepribadian dan perilaku kekasihnya. Prasangka baik dan kesiagaan bersyukur selalu menjadi kuda-kuda utama penyikapannya terhadap pihak yang dikasihinya. Kekasih sejati tidak memelihara kesenangan untuk menemukan kesalahan kekasihnya, apalagi memperkatakannya. Kegagalan kekasihnya selalu dimafhuminya, kesalahan kekasihnya selalu pada akhirnya ia maafkan. Puncak kekuatan dan cinta rakyat Indonesia, si kekasih sejati, kepada pemerintahnya, adalah menumbuhkan rasa percaya diri kekasihnya, menjaga jangan sampai kekasihnya merasa tak dibutuhkan. Rakyat Indonesia selalu memelihara suasana hubungan yang membuat pemerintah merasa mantap bahwa ia sungguh-sungguh diperlukan oleh rakyatnya. Rakyat Indonesia selalu bersikap seolah-olah ia membutuhkan pemerintahnya, presidennya, beserta seluruh jajaran birokrasi tugas dan kewajibannya. Bahkan, rakyat mampu menyembunyikan rasa sakit hatinya agar si
pemerintah kekasihnya tidak terpuruk hatinya dan merasa gagal. Lebih dari itu, meski sering kali rakyat merasa bahwa keberadaan pemerintahnya sebenarnya lebih banyak mengganggu daripada membantu, lebih banyak merugikan daripada menguntungkan, atau lebih banyak mengisruhkan daripada menenangkan,rakyat tak akan pernah mengungkapkan kandungan hatinya itu, demi kelanggengan percintaannya dengan pemerintah si kekasih.
Rakyat sangat menjaga diri untuk tidak mengungkapkan bahwa siapa pun presiden yang terpilih nanti tak akan benar-benar mampu menyelesaikan komplikasi masalah yang mengerikan yang mereka derita. Rakyat tidak akan pernah secara transparan menyatakan bahwa seorang presiden saja, siapa pun dia, takkan sanggup berbuat setingkat dengan tuntutan dan kebutuhan obyektif rakyatnya meski disertai kabinet yang dipilih tanpa beban pembagian kekuasaan dan berbagai macam bentuk kolusi, resmi maupun tak resmi.
SUMBER :
https://www.hipwee.com/opini/cinta-tanah-air-berawal-dari-kasih-dan-sayang-untuk-negeri/
