Gambar dan Penjelasan Siklus Akuntansi
Assalamualaikum,Hallo EveryOne!untuk kali ini saya akan membahas tentang siklus akuntansi,nah simak dulu yuk!!!
A.
Pengertian
Siklus Akuntansi
Siklus Akuntansi
ialah suatu proses dalam membentuk sebuah laporan financial (keuangan)
perusahaan yang bisa diterima dan dipertanggungjawabkan.Pengertian Siklus Akuntansi
akan lebih kita pahami,jika kita dapat menguraikannya berdasarkan penyusunan
kata dari Akuntansi.Nah,Akuntasi merupakan sebuah
pencatatan, pelaporan dan analisa data keuangan di dalam suatu perusahaan. Jadi
kita dapat dengan mudah menarik kesimpulan tentang pengertian dari siklus
akuntansi itu.
Mengenai
mengapa adanya penambahan kata siklus ini sebab alur kerja yang terbentuk ialah
suatu lingkaran (circle). Mulai dari terjadinya proses transaksi, pencatatan
transaksi di buku jurnal, sampai penyusunan laporan keuangan.Serta kegiatan itu
berulang secara periodik. Di dalam periode tertentu, biasanya proses itu akan
kembali ke awal. Kemudian alur perputaran tersebut disebut dengan siklus
akuntansi.
Dan
rutinitas yang harus dilakukan oleh seorang akuntan ialah mengerjakan pembukuan
dengan berpedoman di siklus akuntasi.Pengerjaan pencatatan laporan keuangan
umumnya ialah berpedoman pada siklus akuntansi itu. Berperan sangat penting di
dalam controlling neraca keuangan sebuah perusahaan. Sehingga pemilik
perusahaan nantinya dapat menganalisa sehat atau tidaknya kondisi keuangan
suatu perusahaan.
B.
Tahapan Siklus
Akuntansi Beserta Contohnya
Tahapan-tahapan atau
proses beserta contoh di dalam siklus akuntansi ialah sebagai berikut :
1. Identifikasi Transaksi
Langkah pertama di dalam suatu siklus
akuntansi ialah mengidentifikasi transaksi. Akuntan harus dapat
mengidentifikasi transaksi sehingga bisa dicatat dengan baik.
Tidak
semua transaksi bisa dicatat, transaksi yang bisa dicatat yaitu transaksi yang
berdampak pada perubahan posisi keuangan suatu perusahaan dan bisa dinilai ke
dalam unit moneter secara objektif.
Selain itu, transaksi yang akan dicatat harus memiliki bukti, bila tidak ada bukti
jadi transaksi tidak bisa dicatat dan dilaporkan ke dalam suatu laporan keuangan.
Bukti
transaksi biasanya berupa kuitansi, nota, faktur, bukti kas keluar, memo
penghapusan piutang dan lain-lain. Bukti tersebut tentu harus sah dan dapat
diverifikasikan.
Dokumen transaksi atau bukti transaksi atau
biasa dikatakan sebagai bukti akuntansi ialah dokumen-dokumen dasar transaksi
(baik yang dibuat sendiri ataupun yang berasal dari pihak luar) yang
dipergunakan sebagai sumber pencatatan atau penyusunan suatu laporan keuangan
oleh suatu unit usaha.
Bentuk bukti transaksi
keuangan juga dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut :
ü
Bukti transaksi intern ialah suatu bukti
transaksi yang berasal dan dilaksakan di dalam lingkungan perusahaan itu
sendiri. Misalnya ialah bukti memorial antar bagian/divisi dalam suatu
perusahan tersebut.
ü
Bukti transaksi ekstern yakni sebuah
bukti transaksi yang dapat melibatkan pihak luar suatu perusahaan. Misalnya
ialah kuitansi nota kontan, faktur nota kredit nota debet, cek, bilyet giro.
2. Analisis Transaksi
Setelah
mengidentifikasi transaksi, akuntan harus bisa menentukan pengaruhnya terhadap
posisi keuangan tersebut.
Untuk lebih mudah, Anda
bisa menggunakan persamaan matematis sebagai berikut :
Aktiva = Kewajiban + Ekuitas
Suatu sistem pencatatan
ialah double-entry system, yakni setiap transaksi yang dicatat akan berefek
pada suatu posisi keuangan didebit dan
dikredit dalam jumlah yang sangat sama. Sampai setiap transaksi tersebut
mempengaruhi sekurang-kurangnya dua rekening pembukuan.
Contoh
Analisis Transaksi adalah sebagai
berikut :
ü Diinvestasikan
uang tunai Rp1.600.000,00 dan perlengkapan Rp500.000,00 dan peralatan
Rp850.000,00
Analisa
Kas (Harta) bertambah
Rp1.600.000,00
Perlengkapan (Harta)
bertambah Rp500.000,00
Peralatan (Harta)
bertambah Rp850.000,00
Modal bertambah
Rp2.950.000,00
Penjelasan
ü Kas,
perlengkapan, peralatan, dan modal akan bertambah sebab adanya investasi
sejumlah masing-masing nominal.
ü Modal
bertambah sejumlah Rp2.950.000,00 sebab adanya investasi yang berupa Uang tunai
(Rp1.600.000,00), Perlengkapan (Rp500.000,00) dan Peralatan (Rp850.000,00).
3. Pencatatan Transaksi Kedalam Jurnal
Setelah informasi
transaksi dianalisis, selanjutnya dicatat secara beruntut di buku jurnal.
Jurnal merupakan suatu catatan kronologis tentang transaksi-transaksi yang akan
terjadi dalam suatu periode akuntansi. Proses pencatatan transaksi kedalam
jurnal disebut juga penjurnalan (journalizing).
Ada terdapat dua macam
jenis Jurnal ialah sebagai berikut :
I.
Jurnal Umum
Jurnal umum yang lebih
diketahui dengan istilah jurnal saja. Biasanya pencatatan suatu transaksi yang
dimasukan kedalam satu rekening yang didebit dan satu rekening dikredit.
Contoh :

II.
Jurnal Khusus
Jurnal khusus dilakukan
untuk meningkatkan efisiensi pencatatan terhadap suatu transaksi yang berulang.
Misalnya saja seperti jurnal penjualan, jurnal pembelian, jurnal penerimaan
kas, dan sebagainya.
Contoh :
4. Posting Buku Besar
Langkah selanjutnya
ialah mem-posting transaksi yang telah dicatat di dalam jurnal ke dalam buku
besar. Buku besar merupakan suatu kumpulan rekening pembukuan yang
masing-masing telah digunakan untuk mencatat suatu informasi tentang aktiva tertentu.
Pada hakekatnya, suatu
perusahaan memiliki daftar susunan rekening buku besar yang dinamakan chart of
accounts. Dari masing-masing rekening tersebut biasanya diberi nomor kode,
karena akan memudahkan dalam mengidentifikasi dan membuat cross-reference
dengan pencatatan transaksi di dalam jurnal tersebut.
Contoh Posting Buku
Besar adalah sebagai berikut :
5. Penyusunan Neraca Saldo
Neraca saldo merupakan
suatu daftar saldo rekening buku besar pada periode tertentu saja. Cara
menyusun neraca saldo ialah sangat mudah, Anda hanya harus memindahkan saldo
yang ada di buku besar ke dalam neraca saldo untuk disatukan menjadi satu.
Saldo di neraca saldo
harus sama jumlahnya.Bila jumlah saldo debit tidak sama dengan jumlah yang ada
di dalam kredit jadi bisa dikatakan bahwa neraca saldo tidak seimbang atau
tidak sama, dan masih ada kesalahan. Bila demikian, maka seorang akuntan harus
mencari kesalahan yang terjadi sebelum laporan disusun.
Contoh nya adalah sebagai berikut
:
6. Penyusunan Jurnal Penyesuaian
Bila
pada akhir periode akuntansi tersebut, terdapat transaksi yang belum dicatat,
atau ada satupun transaksi yang salah, atau perlu disesuaikan maka dari itu
dicatat dalam jurnal penyesuaian nya.
Penyesuaian
dikerjakan secara periodik, biasanya waktu laporan akan disusun. Pencatatan
penyesuaian sama dengan pencatatan transaksi pada umumnya. Transaksi
penyesuaian dicatat dalam jurnal penyesuaian dan selanjutnya dibukukan ke dalam
buku besarnya.
Kemudian
itu saldo yang ada di buku besar siap disajikan ke dalam laporan keuangan
tersebut. Dengan demikian, hasil akhir proses akuntansi ialah suatu laporan
keuangan yang disusun secara akrual basis.
Contoh dari penyusunan
jurnal penyesuaian yaitu sebagai berikut :
7. Penyusunan Neraca Saldo Setelah
Penyesuaian
Pada tahapan ini, Anda
harus menyusun neraca saldo kedua dengan cara memindahkan saldo yang telah
disesuaikan di dalam buku besar ke dalam neraca saldo yang baru.
Saldo pada akun-akun
buku besar tersebut dikelompokan ke dalam kelompok aktiva atau pasiva. Saldo di
antara kelompok aktiva dan pasiva pada neraca saldo tersebut juga harus
seimbang. Tetapi, ingat bahwa saldo yang seimbang belum tentu juga benar tetapi
saldo yang benar pasti akan seimbang.
Contoh nya adalah
sebagai berikut :
8. Penyusunan Laporan Keuangan
Dari informasi di
neraca saldo setelah penyesuaian, tahap selanjutnya yakni menyusun suatu
laporan keuangan.
Laporan keuangan
tersebut yang disusun sebagai berikut :
ü
Laporan laba rugi digunakan untuk
menguraikan kinerja suatu perusahaan.
ü
Laporan perubahan modal digunakan untuk
memeriksa perubahan pada modal yang telah terjadi.
ü
Neraca juga dapat digunakan
memperhitungkan likuiditas, solvensi, dan fleksibilitas.
ü
Laporan arus kas juga digunakan untuk
memberikan suatu informasi yang relevan mengenai kas keluar dan kas masuk pada
periode berjalan.
9. Penyusunan Jurnal Penutup
Setelah membuat suatu
laporan keuangan, seorang akuntan harus dapat membuat jurnal penutup. Jurnal
penutup hanya bisa dibuat pada akhir periode akuntansi saja.
Rekening yang ditutup
yaitu rekening nominal atau rekening laba-rugi nya saja. Caranya ialah dengan
membuat nihil rekening yang terkait. Suatu rekening nominal harus bisa ditutup
sebab rekening tersebut digunakan untuk mengukur kegiatan atau aliran pada
sumber yang telah terjadi pada periode berjalan.
Di akhir periode
akuntansi, suatu rekening nominal sudah selesai menjalankan fungsinya sehingga
harus dapat ditutup. Kemudian, di periode selanjutnya bisa digunakan kembali
untuk mengukur kegiatan yang baru dan mulai terjadi.
Berikut adalah contoh
dari penyusunan jurnal penutup :

10. Penyusunan Neraca Saldo Setelah
Penutupan (Opsional)
Pada langkah yang ini,
seorang akuntan harus menyusun neraca saldo setelah penutupan. Neraca saldo ini
ialah daftar saldo suatu rekening buku besar setelah dibuatnya jurnal penutup.
Oleh sebab itu neraca saldo ini hanya bisa memuat saldo rekening permanen nya
saja.
Tujuan pembuatan neraca
saldo setelah penutupan ialah untuk mendapatkan keyakinan bahwa saldo yang
seimbang sudah benar dan akurat. Sehingga penyusunan neraca saldo tersebut tidak
hanya bersifat opsional saja.
11. Penyusunan Jurnal
Pembalik (Opsional)
Tujuan jurnal pembalik
ialah menyederhanakan prosedur pencatatan transaksi tertentu yang terjadi
secara repetitif di periode berikutnya. Sebab tujuannya hanya untuk menyederhanakan
oelh karena itu tahap terakhir ini juga bersifat opsional.
Jurnal pembalik
biasanya dapat dibuat di awal periode berikutnya. Caranya adalah dengan membuat
jurnal pembalik nya dari jurnal penyesuaian yang telah dibuat. Dengan demikian
membalikan akun yang telah dibuat pada jurnal penyesuaian dari yang awalnya
debit menjadi kredit dan dari yang awalnya kredit menjadi debit.
Ini adalah contoh dari
penyusunan jurnal pembalik :
Dengan penerapan siklus
atau proses akuntansi ini yang benar, maka kegiatan usaha yang akan dapat
dilakukan dengan efektif.
Selain itujuga
pengambilan keputusan bisa dilaksanakan dengan lebih tepat dan cepat karena
berdasarkan dari suatu informasi keuangan yang riil sehingga pengembangan usaha
lebih cepat untuk dikerjakan.
REFRENSI :
https://sarjanaekonomi.co.id/siklus-akuntansi/
Sekian dari saya kurang lebihnya mohon maaf,Wassalamualaikum :)






